Anak, Orang Tua dan Masa Depan
Konon anak adalah titipan Tuhan. Mayoritas pasangan muda menginginkannya. Karena keluarga Indonesia telah berbabad-abad ter”mindset” dengan definisi kebahagiaan sebuah keluarga: rumah mungil dengan sepasang anak manis.
Sehingga ketika sebuah perkawinan tak kunjung mempunyai anak keadaanya tak lebih dahsyat dibanding sebuah pulai terpencil yang terus menerus dihantam badai tsunami. Dan yang paling dahsyat biasanya datang dari pihak luar. Yang paling usil tentu saja pihak keluarga laki-laki.
Dan kesempatan “baik” ini jika kebetulan mata keranjang, akan dimanfaatkan untuk menceraikan suaminya, atau minimal akan mencari isteri muda. Apesnya momen ini dijadikan alasan pembenaran untuk selingkuh.
Entah kenapa mempunyai anak dianggap sebagai sesuatu yang sangat wajar, terutama jika dilihat dari sisi ekonomi. Banyak orang miskin yang mempunyai anak banyak. Sepertinya mereka tak pernah mempersiapkan masa depannya.
Kasian sebenarnya anak-anak yang menurutku menjadi korban itu. Memang ribet masalah ini. Tak mungkin toh anak-anak akan menyalahkan orang tuanya? Ini berbeda dengan para pasangan di Jepang. Mereka akan benar-benar mempersiapkan maksimal jika akan mempunyai anak.
Sehingga kelak anak-anaknya akan hidup layak. Tinggal di tempat yang sehat, gizi yang baik dan mendapat pendidikan cukup. Sehingga ada kepastian masa depan.
Saya pribadi memutuskan untuk tak mempunyai anak. Kalau memang menginginkan anak, saya akan mengambil dari panti asuhan atau mencomot anak-anak jalanan yang keleleran. Kalau punya anak dengan alasan untuk mencintai. Kenapa tak mengambil yang sudah jelas-jelas nyata adanya.
Pasti ada yang bertanya, bagaimana dengan hari tua nantinya, siapa yang akan mengurusnya? Ya, ini memang dilema. Tapi saya sudah mempersiapkannya. Seperti kata Khahlil Gibran, anakmu bukanlah milikmu. Anak itu ibarat anak panah dan orang tua adalah busurnya.
Dan benar, saya sebagai anak telah di”luncurkan” oleh orang tua saja ke Jakarta. Dan hanya sekali-sekali saja menengoknya. Sekarang Mereka hanya tinggal berdua, tak ada satupun dari lima anaknya yang menemani dan mengurusnya.
Dan aku duga banyak orang tua yang mengalaminya. Sayang sekali, peluang bisnis perawatan orang tua belum ada di Indonesia. Adanya panti jompo yang dikelola dengan dana dari para donatur. Sehingga orang-orang seperti saya bisa membeli premi dari sekarang. Dan bagi orang tua yang punya anak, mereka telah membebaskan “tugas-tugas mulia” ini kepada anak-anaknya.
Orang tua senang, anak pun lebih bahagia.


